Sabtu, 24 September 2011

GENERASI BERKUALITAS

Manusia tidak dapat mengelakkan diri dari proses regenerasi, berupa berakhirnya peranan suatu generasi untuk diganti oleh generasi berikutnya. Proses tersebut berlangsung secara alamiah sesuai ketentuan Tuhan. Pergantian terjadi karena manusia tidak dapat mengelakkan diri dari perkembangan dan pertumbuhan menjadi tua, sehingga tidak seorang pun dapat menghindar dari kematian. Bersamaan dengan itu lahir pula anak-anak manusia, yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya makin menjadi besar dari waktu ke waktu, hingga sampai pada saat kedewasaannya masing-masing. Generasi baru itu harus meneruskan sejarah kehidupan manusia dengan menggantikan peranan generasi terdahulu, baik yang telah mengundurkan diri karena usia tua, menjadi lemah dan tak berdaya, maupun karena telah menutup usianya. Siklus ini tidak akan pernah berhenti selama di muka bumi ini masih ada kehidupan, atau sampai kiamat tiba (Nawawi dan Martini, 1994).

Namun pergantian generasi jangan sekadar bergantinya sekumpulan manusia dari yang tua menjadi muda. Generasi pengganti itu haruslah berkualitas agar dapat melanjutkan tugas generasi sebelumnya dalam mengelola bumi dan peradaban dengan baik. Dalam hal ini, Alquran telah memberikan peringatan agar manusia jangan meninggalkan generasi (anak-anak) yang lemah sepeninggal mereka:

”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisâ [4]: 9)

Tanggung jawab untuk membentuk generasi yang tidak lemah, dalam bahasa yang positif: generasi kuat atau generasi berkualitas, yang pertama dan terutama berada di pundak para orang tua dalam keluarga. Namun pembentukan generasi penerus yang berkualitas bukanlah kerja individual, melainkan melibatkan segenap unsur dalam masyarakat, seperti para pendidik, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah, media massa, dan lain sebagainya.

Jadi, dapat disimpulkan generasi berkualitas ialah generasi yang semua aspek perkembangannya dapat berkembang secara optimal dan sesuai dengan tugas perkembangannya.

Ciri-ciri Generasi Berkualitas

Perkataan “kualitas” menunjukkan kondisi sesuatu dibandingkan dengan suatu ukuran tertentu, berdasarkan norma-norma atau nilai-nilai terbaik mengenai sesuatu itu (Nawawi dan Martini, 1994). Ukuran dari nilai-nilai itu sendiri adalah abstrak, sehingga ketika disebutkan istilah “generasi berkualitas”, definisi atau pengertian langsung dari istilah itu tidaklah begitu diperlukan karena maknanya tidak akan lebih jelas daripada istilah yang didefinisikan. Yang lebih penting untuk disampaikan di sini adalah ciri-ciri dari generasi berkualitas tersebut.

Ciri-ciri generasi berkualitas dilihat dari beberapa aspek penting, yakni aspek fisik/jasmani, aspek psikis/psikologis, aspek sosial dan kultural, serta aspek spiritual dan moral.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Terbentuknya Generasi Berkualitas
Terbentuknya generasi berkualitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang mendukung maupun yang menghambat. Dalam sejarah perkembangan manusia, ada tiga lingkungan yang berpengaruh pada kepribadian dan kualitas dirinya. Berikut ini adalah beberpa faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya generasi berkualitas:

1.   Keluarga

Keluarga merupakan institusi pertama yang ditemui seorang anak dalam perjalanan hidupnya. Keluarga adalah awal dari pengenalan dan pemahaman setiap anak mengenai kehidupan (Nawawi dan Martini, 1994). Perkembangan kepribadian seorang anak sangat dipengaruhi keadaan dan pola pengasuhan dalam keluarganya. Oleh karena itu, peranan keluarga dalam proyek pembentukan generasi berkualitas sangat penting untuk ditekankan.

Peranan keluarga dalam mempersiapkan generasi baru berkualitas, pertama kali adalah dengan mewujudkan pemeliharaan yang terbaik. Setiap anak memerlukan untuk tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan yang sehat. Agar tercipta anak-anak yang berkualitas, menurut Suyudi (2006), ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yaitu pertama, aspek fisik atau jasmani. Artinya, setiap anak memiliki hak untuk dipenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan dari orang tuanya secara halal dan baik.

2. Aspek Psikologis

Setiap anak berhak hidup dalam lingkungan yang memiliki hubungan harmonis antar anggota keluarga (suami isteri, anak, atau anggota keluarga lainnya). Selain itu, kedekatan emosional juga dibutuhkan antara anak dan orang tua. 3 hal yang perlu dilakukan adalah yang pertama tatapan penuh kasih sayang, kedua sentuhan lembut pada tubuh, ketiga perhatian yang tidak terpecah saat berinteraksi. Dengan terciptanya kedekatan emosional, maka anak akan merasa diberikan kasih sayang oleh orang tuanya. Hubungan seperti ini yang akan membentuk kepribadian anak secara positif. Sebaliknya, kehidupan yang diwarnai dengan pertengkaran, makian, bentakan, dan kemarahan akan memberi dampak negatif bagi perkembangan psikologis anak.
 
 
3. Aspek Spiritual

Setiap anak juga membutuhkan lingkungan yang senantiasa menanamkan akidah (nilai keimanan), bahwa Allah satu-satunya yang kuasa dan berhak disembah, bahwa Allah tidak boleh dipersekutukan dengan apapun. Hal ini dapat dilakukan dengan penanaman ajaran agama dan pembiasaan melakukan ibadah sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw.

Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mengasuh kecerdasan spiritual anak adalah sebagi berikut: memberi contoh. Anak usia dini mempunyai sifat suka meniru. Karena orang tua merupakan lingkungan pertama yang ditemui anak, maka ia cenderung meniru apa yang diperbuat oleh orang tuanya. Disinilah peran orang tua untuk memberi contoh yang baik bagi anak, misalnya mengajak anak untuk ikut berdoa. Saat waktunya shalat, ajaklah anak untuk segera mengambil air wudhu dan segera menunaikan shalat. Jadi jika ingin menghasilkan generasi yang berkualitas, tanamkan keagamaan pada anak dari usia dini


4. Aspek Sosial dan Kultural

Setiap anak juga membutuhkan lingkungan sosial dan kultural sosial dan kultur yang sehat dan humanis, sehingga membantu anak memahami realitas kehidupan.

5. Komunikasi yang efektif antara suami-istri turut andil dalam membentuk generasi berkualitas

Dari komunikasi yang terjalin dengan baik maka orang tua dapat menentukan pendidikan dan pola pengasuhan yang tepat. Komunikasi yang efektif akan dapat diterima dengan baik bagi ayah, ibu, dan anak, khususnya bagi sang anak komunikasi yang terjalin dengan baik merupakan sebuah cerminan dan contoh yang akan dijadikan teladan.


6.  Pendidikan

Inti dari tujuan pendidikan terhadap anak adalah membentuk manusia cerdas, yang mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai manusia. Manusia diciptakan dengan adanya misi yang menyertainya, sesuai  kehendak Sang Pencipta. Misi itu dapat dilihat dalam firman-Nya QS. Adz-Dzariyat: 56. Semua cara dan system pendidikan harus mengacu pada tujuan awal diciptakannya manusia, yaitu membentuk manusia cerdas serta semata-mata berorientasi pada akhlak ketuhanan. Pendidikan yang dilakukan di dalam rumah tangga maupun di sekolah melalui orang tua dan para guru, mengharuskan orang tua dan guru menyadari bahwa membangun akhlak anak adalah tugas paling utama.

Pendidikan yang benar harus menjadi lahan perkembangan unsur-unsur rohani, mental, dan jasmani. Ketiga unsur ini harus berkembang secara seimbang dan lengkap. Perkembangan yang tidak seimbang dan harmonis dari ke tiga unsur ini akan mengakibatkan kepincangan yang mengurangi keutuhan jiwa anak. Ketiganya sama pentingnya dan harus saling mengisi. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus dijaga sebagaimana mental dan rohaninya juga harus diperkembangkan.

Maka agar sebuah generasi menjadi generasi yang kuat dan berkualitas, pendidikan dan lembaga pendidikan harus mendapat perhatian yang khusus. Sebisa mungkin, pendidikan diselenggarakan dalam lembaga dan sistem yang baik, yang memungkinkan anak didik mencapai segenap kualitas yang diperlukan olehnya dalam mengarungi kehidupan. Pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak yang berkepentingan, keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Gambaran Generasi Berkualitas Menurut Islam

Faktor yang paling menentukan kualitas generasi Islam adalah keimanan dan keilmuannya. Pembentukan generasi dalam pandangan Islam tidak hanya ditargetkan untuk mencapai ketinggian teknologi dan ilmu pengetahuan semata. Target utama pembentukan generasi adalah untuk mencetak generasi yang memiliki keimanan yang kokoh, lalu dengan dorongan keimanan tersebutlah teknologi dan ilmu pengetahuan dikaji dan dikembangkan. Artinya, keimanan menjadi dasar bagi keilmuan seseorang. Lebih jelasnya, gambaran generasi berkualitas dalam pandangan Islam adalah sebagai berikut:

  1. generasi yang berkepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyah)
  2. generasi yang berjiwa pemimpin.
  3. mampu mengarungi hidup berdasarkan aqidah Islam.
Peran Muslimah Dalam Pembentukan Generasi Berkualitas

Dalam proses pembentukan generasi melalui pendidikan anak sejak dini, keluarga mempunyai peran strategis, terutama sosok muslimah sebagai ibu mempunyai konstribusi yang cukup besar. Ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak mempunyai indikasi, bahwa peran ibu sangat vital sebagai pencetak generasi sejak dini. Ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak, sosok pertama yang memberi rasa aman dan sosok pertama yang dipercaya dan didengar omongannya oleh anak.

Terlebih lagi, sesungguhnya anak bagaikan ’radar’yang dapat menangkap setiap obyek yang ada di sekitarnya. Perilaku ibu adalah kesan pertama yang ditangkap anak. Apabila seorang ibu mempunyai kepribadian yang agung dan tingkat ketaqwaan yang tinggi, maka kesan pertama yang masuk ke dalam benak anak adalah kesan yang baik. Kesan awal yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak ke arah ideal yang diinginkan. Di samping itu, anak sendiri membutuhkan figur contoh (qudwah) dalam mewujudkan nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya selama proses belajar di masa kanak-kanak, sebab akal anak belum sempurna untuk melakukan proses berfikir. Ia belum mampu menerjemahkan sendiri wujud nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Kekuatan figur ibu akan membuat anak mampu menyaring apa-apa yang boleh dan tidak boleh diambil dari lingkungannya, karena anak menjadikan apa yang diterima dari ibunya sebagai standar nilai.

Mengingat besar dan pentingnya peran ibu dalam proses pembentukan generasi berkualitas, perlu diupayakan pengembalian peran ibu agar sesuai dengan fungsinya. Selain itu juga perlu diupayakan peningkatan kualitas ibu, karena tinggi rendahnya kualitas ibu sangat mempengaruhi kualitas anak. Untuk itu terwujudnya figur ibu ideal merupakan langkah awal untuk mencetak generasi masa depan yang berkualitas. Secara garis besar, kriteria ibu ideal yang dibutuhkan dalam mendidik anak-anak sejak dini adalah :

1. Memiliki aqidah dan kepribadan Islam

Ibu yang memiliki aqidah yang kuat akan memiliki keyakinan bahwa anak adalah amanah Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari akhir. Ibu yang seperti ini akan menggembleng anaknya dengan keimanan yang kokoh sejak kecil, memperkenalkan pada anak siapa penciptanya, menghindarkan anak dari segala bentuk kesyirikan dan mengajarkan anak untuk tunduk patuh pada aturan Pencipta, sehingga anak memahami hakekat dan tujuan kehidupannya.

Ibu juga harus memiliki kepribadian Islam yang kuat. Artinya menjadikan aqidah Islam sebagai standar berfikir maupun dalam bersikap. Dengan memiliki aqidah yang kuat dan kepribadian yang agung, ibu akan layak untuk dijadikan sebagai teladan bagi anak-anaknya dengan sifat-sifat seorang pendidik, antara lain ikhlas, penyayang dan memiliki bahasa yang baik.

2. Memiliki kesadaran untuk mendidik anak-anaknya sebagai aset umat

Ibu yang baik, tidak hanya mendidik anaknya sekedar agar sang anak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan merawat orang tuanya di masa tua. Akan tetapi ia juga senantiasa mengarahkan anaknya untuk berjuang menjalankan perintah Allah, yaitu beramar ma’ruf nahi munkar. Ibu yang memiliki kesadaran yang seperti ini senantiasa memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya dan berupaya membangun lingkungan yang kondusif demi terjaganya tumbuh kembang generasi-calon pemimpin masa depan umat.

3. Mengetahui dan menguasai tentang konsep pendidikan anak

Wawasan dan keilmuan yang tinggi sangat diperlukan bagi ibu sebagai seorang pendidik generasi. Demikian pula dengan memahami kondisi perkembangan anak, baik aspek fisik, naluri maupun fikirnya dituntut bagi ibu untuk menguasainya. Dengan mengetahui konsep pendidikan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya dan program-program yang wajib ia jalankan, ibu akan mampu memenuhi seluruh hak-hak anaknya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar