Kamis, 01 Desember 2011

Anak Hiperaktif (ADHD)


  1. Pengertian Hiperaktif
Keadaan anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (Attention-Deficit Hiperactivity Disorder/ ADHD) telah banyak dikeluarkan orang tua, maupun masyarakat dan keluhan ini terus meningkat. Seringkali, seorang anak mempunyai riwayat ketika menjadi seorang bayi “yang sulit diatur”, yang menderita susah tidur, tidak suka bercanda, banyak menangis, mengelit ketika dimandikan, disuapi dan tidak dapat dihibur. Pelayanan yang sistematis untuk anak tersebut hingga sekarang sangat terbatas. Sehubungan dengan kondisi semacam itu, maka sangat diperlukan yayasan, klinik-klinik atau lembaga yang menangani anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian, serta penyuluhan bagi masyarakat, dan orang tua.

Penyimpangan kurangnya perhatian dan hiperaktif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kepandaian anak-anak rata-rata atau diatas rata-rata yang memiliki tingkat perkembangan mental yang tidak layak seperti tidak memperhatikan, tidak mempunyai naluri dan hiperaktif (reed: 1991). Anak laki-laki biasanya lebih cenderung lebih banyak dibandingkan anak perempuan. Istilah lain yang diasosiasikan dengan penyimpangan ini adalah rendahnya fungsi otak (MBD), hyperkinesis, penyimpangan hiperkinetik dan syndrome anak hiperaktif.

Orang tua dan guru sebagai ujung tombak dalam pendidikan, juga mempunyai tugas yang berat. Orang tua dan guru merasakan apabila menghadapi anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif. Layanan pendidikan pada anak semacam itu tidak hanya diperlukan kemampuan menguasai materi pelajaran dan metode penyampaiannya, tetapi para orang tua dan guru juga perlu menguasai atau memahami hakikat anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif beserta penatalaksaannya/ intervensinya.

Anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif termasuk gangguan bersifat akut yang mulai muncul pada masa kanak-kanak di bawah usia 7 tahun. Secara umum gangguan pemusatan dan perhatian (ADHD) adalah suatu kelainan neurobiologist yang bercirikan adanya gangguan memusatkan perhatian (inattention), mudah beralih perhatiannya (impulsivity) dan hiperaktifitas (hyperactivity).

Gangguan pemusatan perhatian biasanya mulai timbul pada usia 3 tahun, namun pada diagnosis baru ditetapkan setelah anak duduk di sekolah dasar, dimana situasi belajar yang formal menuntut pola perilaku yang terkendali termasuk pemusatan perhatian dan konsentrasi (Widyawati: 1999).

Menurut Barkley (dalam Store, DuPaul: 1994) 3-5% anak usia sekolah didiagnosa mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif. Lebih lanjut ditegaskan di setiap kelas regular yang berjumlah 20 siswa, satu anak mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif. Walaupun belum terdapat angka resmi yang menyebutkan jumlah kejadian di Indonesia, tetapi dari pengalaman praktek di Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak Yogyakarta, terdapat 10% anak penderita gangguan perhatian dari seluruh jumlah pasien (Gamayanti: 1997).

Akibat dari gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif ini sangat beragam, jika senis gangguan tidak teridentifikasi dan tidak ditangani, maka mereka mempunyai resiko tinggi mengalami hambatan kemampuan belajar, menurutnya tingkat kepercayaan diri, problem-problem sosial, kesulitan-kesulitan dalam keluarga dan problem lain yang mempunyai efek panjang.

Pada dasarnya anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif bukan tidak mampu belajar, tetapi karena kesulitan untuk memusatkan perhatian menyebabkan mereka tidak siap untuk belajar. Pengobatan medis saja tampaknya belum bisa menjawab semua permasalahan yang dialami anak dengan ADHD, untuk itu diperlukan pola asuh dan system belajar yang tepat.

Ciri utama anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif adalah adanya kecenderungan untuk berpindah dari suatu kegiatan ke kegiatan lain tanpa dapat menyelesaikan tugas yang diberikan, tidak dapat berkonsentrasi dengan baik bila mengerjakan suatu tugas yang menuntut keterlibatan fungsi kognitif, serta tampak adanya kegiatan yang beraturan, berlebihan dan bahkan mengacau.  

  1. Karakteristik Anak Hiperaktif
Anak hiperaktif mempunyai karakteristik tersendiri dengan ciri utama adanya kecenderungan untuk berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain tanpa dapat menyelesaikan tugas yang diberikan, tidak dapat berkonsentrasi dengan baik bila mengerjakan suatu tugas yang menuntut keterlibatan fungsi kognitif, serta tampak adanya aktifitas yang tidak beraturan, berlebihan dan mengacau. Anak hiperaktif biasanya keras kepala, permintaanya harus dituruti/memaksakan kehendak, emosinya labil, penolakan oleh teman sebaya, malas serta kurang tanggung jawab.

Kriteria anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif menurut Abdurrahman (1999) adalah sebagai berikut:

1.  Kurang mampu memusatkan perhatian paling sedikit mencangkup tiga karakteristik dari yang tersebut dibawah ini:
a.       Sering gagal menyelesaikan pekerjaan yang dimulai
b.      Sering tampak seperti tidak mendengarkan atau tidak memperhatikan
c.       Mudah bingung atau mudah terkecoh
d.  Kesulitan untuk memusatkan perhatian pada berbagai tugas sekola atau berbagai tugas lainnya.
2.    Implusif paling sedikit mencangkup tiga karakteristik dari yang disebut dibawah ini:
a.       Kesulitan untuk mengikuti suatu aktivitas permainan
b.      Sering bertindak sebelum berpikir
c.       Mengubah-ubah aktivitas yang satu ke yang lain
d.      Kesulitan untuk mengorganisasikan pekerjaan
e.       Memerlukan banyak pengawasan
f.       Sering keluar kelas
g.      Sulit menunggu giliran dalam permainan atau dalam situasi belajar kelompok.
3.    Hiperaktivitas
a.       Berlari-lari dan memanjat-manjat secara berlebihan
b.      Gelisah secara berlebihan
c.       Berjalan-jalan pada saat tidur
4.    Sering mengembara tanpa tujuan
5.    Terjadi sebelum usia tujuh tahun
6.    Durasinya paling sedikit enam bulan
7.    Bukan karena schizophrenia atau retardasi mental berat

Secara spesifik anak hiperaktif menunjukan ciri-ciri perilaku yang berbeda dari anak biasa. Suwarno (1999) mengemukakan jika dicermati anak hiperaktif mempunyai tanda-tanda sebagai berikut:
1. Sering menampakan kegelisahan. Hal ini terlihat pada tangan dan kaki yang selalu digerak-gerakan atau pada duduknya yang kelihatan tidak bisa diam.
2.    Sulit sekali bagi anak memenuhi permintaan untuk duduk tenang dan manis.
3.    Mudah dipengaruhi oleh rangsangan dari luar dirinya.
4. Tidak mudah bagi anak “menunggu” samapi mendapat giliran, baik pada permainan maupun situasi kelompok.
5.  Seringkali dengan cepat anak menjawab, sementara pertanyaan yang diajukan belum selesai diucapkan.
6.   Anak sering mengalami kesulitan untuk mengikuti pikiran serta instruksi atau perintah orang lain, misalnya guru. Akibatnya anak gagal melaksanakan tugas.
7.   Bukan hal yang mudah bagi anak untuk tetap mempertahankan perhatian atau konsentrasi pada saat melakukan kegiatan permainan.
8.    Sering berpindah dari suatu tugas yang belum diselesaikan ke tugas lain.
9.    Mengalami kesulitan untuk bermain dengan tenang.
10.    Sering berbicara secara berlebihan
11.    Sering menginterupsi (menyela) atau memaksakan kehendak terhadap orang lain.
12.    Sering nampak seolah-seolah tidak mendengarkan apa yang sedang diucapkan terhadapnya.
13. Sering kehilangan barang-barang yang justru penting diperlukan, misalnya untuk mengerjakan tugas. Contoh: pensil, bolpoin, mainan, buku bahkan tugas yang justru harus dikerjakan.
14. Sering melakukan hal-hal yang berbahaya tanpa mempertimbangkan resikonya. Misalnya menyebrang jalan begitu saja, tanpa menoleh kekiri kekanan terlebih dahulu.

Mencermati karakteristik anak hiperaktif tersebut diatas, maka intinya ada tiga hal yaitu: anak kurang mampu memusatkan perhatian, implusif, serta hiperaktif. Kondisi anak yang demikian harus segera mendapatkan pelayanan atau terapi okupasi. Layanan atau intervensi secara dini pada anak hiperaktif (ADHD) diharapkan segera dilakukan agar potensi yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal.

  1. Problema Anak Hiperaktif
Anak yang mengalami gangguan hiperaktif mengalami permasalahan yang sangat kompleks. Permasalahan tersebut meliputi; motorik, sensorik, kognitif, intrapersonal, interpersonal, perawatan diri, produktivitas, serta leisure.

1.      Motorik
·      Anak mungkin hiperaktif atau menunjukan tingkat aktivitas yang tinggi. Ia sering gelisah dan mengelit ketika di dudukan dan lebih suka lari daripada jalan.
·    Anak cenderung tidak bisa diajak kerjasama/koordinasi. Kurangnya kerjasama mungkin berhubungan dengan reaksi sikap ketepatan memperhatikan atau tidak memperhatikan.
·         Anak mungkin kurang mampu dalam perencanaan, dan canggung.
·         Anak mungkin menunda atau mengabaikan respon untuk memperhatikan (ketepatan reaksi), khususnya dalam posisi ketidaksopanan. Besaranya pola pelarian cenderung mendominasi ke pola perkelahian. Hasilnya adalah kurangnya stabilitas dan kontraksi, kurang perlindungan dan reaksi keseimbangan, dan menurunya stabilitas.
·         Anak mungkin mempunyai waktu pendek pada postrotary nystagmus.

2.      Sensori

·    Anak mungkin memiliki panca indera sensitive yang meningkat, sebagaimana digambarkan oleh respon perpindahan lurus, kesopanan yang tidak tentu, dan pertahanan yang kurang dirasakan. Hasilnya anak mengalami kesukaran dalam inisiatif untuk berorganisasi dan kurang ketenangan sistem tubuh. Disamping itu juga menunjukan mudah tersinggung, melengkungkan badan, terus menangis dan mendorong atau membalikkan diri dari penolong.

·   Anak mungkin memiliki panca indara yang menyimpang (reaksi tertahan atau orientasi gerakan yang tidak sengaja). Hasilnya adalah kurangnya koordinasi antara proses bertindak, kegiatan, dan usaha yang menggerakan pada kesulitan dalam membangun sikap adaptasi yang dibuat-buat.

·    Anak mungkin mempunyai pola respon yang tidak seperti biasanya, mengabaikan apa yang berhubungan dengan system kegiatan terkait. Anak mengalami kesukaran untuk tidur dan gelisah di tempat tidur. Dalam situasi baru, sikap melindungi (ketakutan, penarikan, dan bermusuhan) mungkin nyata.

3.      Kognitif

·      Anak biasanya memiliki respon orientasi yang kurang, seperti kesukaran dalam orientasi, dan perhatian.
·      Anak biasanya memiliki rentang perhatian yang pendek, dukungan perhatian yang kurang dan kurang penjagaan.
·    Anak biasanya memiliki perhatianselektif yang kurang dan mudah dikacaukan oleh rangsangan dari luar.
·   Anak mungkin kekurangan memori yang menimbulkan hilangnya sesuatu yang diperlukan untuk tugas-tugas atau kegiatan-kegiatan dirumah atau disekolah.
·      Anak mungkin mempunyai kesukaran dalam mengikuti instruksi/ perintah dari orang lain.
·  Anak mungkin mempunyai kesukaran dalam mempelajari pendekatan baru atau respon adaptasi untuk tugas-tugas umum.
·      Seringkali anak mempunyai kurang kemampuan dalam pemecahan masalah.
·      Anak cenderung membuat keputusan yang cepat tanpa pemilihan pertimbangan.

4.      Intrapersonal

·    Anak biasanya implusif dan kurang mawas diri, mempunyai kesulitan dalam menunggu giliran atau menunggu untuk dipanggil atau jawaban pertanyaan, dan cenderung bertindak sebelum berpikir.
·      Emosi anak mudah labil atau suasana hati lagi terhanyut dan mudah frustasi.
·   Anak mungkin mempunyai kesulitan dalam beradaptasi untuk situasi yang baru atau perubahan sikap dalam merespon situasi lama. 

5.      Interpersonal
·                  Anak mungkin menjadi badut kelas atau menari diri.
·                  Anak cenderung sulit untuk disiplin dan kelihatan tidak merespon hukuman.
·                  Anak cenderung menjadi antisosial.

6.      Perawatan Diri
·                  Tertundanya perkembangan yang terjadi dalam hal perawatan diri.
·      Anak memiliki kesulitan dalam melengkapi tugas dan sering meninggalkan tugas yang tidak terselesaikan atau setengan selesai.

7.      Produktivitas
·      Kemampuan bermain tertunda. Anak mungkin tidak menunjukan eksplorasi permainan yang bagus.
·        Anak sering berpindah dari satu kegiatan yang belum terselesaikan ke kegiatan lain.
·      Anak mempunyai kesulitan untuk bermain dengan tenang dan cenderung pada kegiatan yang menimbulkan kegaduhan/bising.
·      Anak mungkin gagal dalam satu atau lebih mata pelajaran di sekolah.

8.      Leisure (Pengisian Waktu Luang)
Anak mungkin kesulitan dalam berpartisipasi dalam kelompok, sebab kegagalan dalan mengikuti peraturan dan kebasaan daripada interupsi atau mengganggu yang lain.


Ciri-ciri ADHD:
         Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari ;
        kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu.
        Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.
         Gejala hiperaktif dapat dilihat dari ;
        perilaku anak yang tidak bisa diam.
        Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan.
        Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari,
        bahkan memanjat-manjat.
        Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
         Gejala impulsif ditandai dengan ;
        kesulitan anak untuk menunda respon.
   Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali.
        Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan.
        Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. 

  Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan.
    Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan.
         Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya.
       Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Gejala yang terjadi pada bayi
         Gejala yang harus lebih dicermati pada usia bayi adalah ;
        bayi yang sangat sensitive terhadap suara dan cahaya,
        menangis, menjerit, sulit untuk diam,
        waktu tidur sangat kurang dan sering terbangun,
        kolik, sulit makan atau minum susu baik ASI atau susu botol,
        tidak bisa ditenangkan atau digendong,
        menolak untuk disayang,
        berlebihan air liur, kadang seperti kehausan sering minta minum,
        Head banging (membenturkan kepala, memukul kepala, menjatuhkan kepala kebelakang) dan sering marah berlebihan.
 
Gejala pada anak usia sekolah
         Bila di sekolah ;
        kurang konsentrasi,
        aktifitas berlebihan dan tidak bisa diam,
        mudah marah dan meledak kemarahannya, 
        nafsu makan buruk.
        Koordinasi mata dan tangan jelek,
        sulit bekerjasama, suka menentang dan tidak menurut,
        suka menyakiti diri sendiri (menarik rambut, menyakiti kulit, membentur kepala dll) dan gangguan tidur.
 
Gejala lain pada anak usia sekolah
         tindakan yang hanya terfokus pada satu hal saja 
         cenderung bertindak ceroboh,
         mudah bingung,
         lupa pelajaran sekolah dan tugas di rumah,
         kesulitan mengerjakan tugas di sekolah maupun di rumah,
         kesulitan dalam menyimak, 
         kesulitan dalam menjalankan beberapa perintah,
         sering keceplosan bicara, tidak sabaran,
         gaduh dan bicara berbelit-belit,
         gelisah dan bertindak berlebihan, terburu-buru,
         banyak omong dan suka membuat keributan,
         suka memotong pembicaraan dan ikut campur pembicaraan orang lain.
 
Alat diagnose
      haruslah memenuhi kriteria yang terdaftar dalam diagnostic and statistical manual of mental disoders (manual diagnostik dan statistik kelainan mental), edisi IV (DSM- IV) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association) Washington DC 1994 (Mulyono,2003).
         Manual ini berisi kode-kode diagnostik yang sekarang dipakai seluruh Amerika Serikat. Klasifikasi dan gejala dari tiga tipe ADHD (kurang mampu memperhatikan, hiperaktif, impulsiv) berikut ini disusun berdasarkan manual tersebut, yaitu:
        Kalau Tidak (1) Atau (2), Atau Kedua-Duanya.
        Enam atau lebih dari gejala kurang mampu untuk tetap memperhatikan, kelihatan selama paling sedikit enam bulan, sampai satu derajat yang tidak bisa diterima atau tidak konsisten dengan tingkat pertumbuhan.
 
Kurang mampu memperhatikan
   Sering mendapat kesulitan untuk dapat memperhatikan dalam kegiatan tugas atau permainan.
         Sering seakan tidak mendenganrkan kalau diajak bicara secara langsung.
         Sering tidak memahami semua instruksi dan gagal mengerjakan tugas sekolah, pekerjaan sehari-hari atau tugas kantor (bukan disebabkan perilaku menentang atau gagal memahami instruksi).
         Sering mendapat kesulitan mengatur tugas atau kegiatan.
     Sering menghindari, tidak suka atau enggan terlalu tekun dalam tugas yang menuntut upaya mental terus menerus.
         Sering kehilangan benda-benda yang perlu untuk tugas atau kegiatan.
         Sering terganggu oleh rangsangan berlebihan.
         Sering lupa (alpa) dalam kegiatan sehari-hari.

Enam atau lebih dari gejal hiperaktivitas- impulsivitas berikkut ini
terus kelihatan selama paling sedikit enam bulan, sampai satu
tingkat yang tidak bisa diterima atau tidak konsisiten tingkat
pertumbuhan
 
Hiperaktivitas
        tangan dan kaki sering tidak bisa diam atau duduk dengan resah.
        Sering meninggalkan kursi di kelas atau dalam situasi lainnya ketika diharapkan tetap duduk manis.
        Sering lari kesana-sini atau banyak memanjat-manjat dalam situasi ketika diharapkan tetap duduk manis.
        Sering tidak bisa diam ketika bermain atau melakukan kegiatan waktu luang.
        Sering bergerak atau sering bertindak seakan ”didorong sebuah motor”.
                      Sering berbicara terus menerus (cerewet).

Impulsivitas
         sering menjawab sebelum pertanyaan selesai.
         Sering tidak sabar dalam menunggu giliran.
            Sering menyela orang lain misalnya pembicaraan atau permainan

Catatan ketika diagnosa
   beberapa gejala hiperaktif-impulsif atau kurang mampu memperhatikan yang menyebabkan kelemahan itu sudah muncul sebelum usia tujuh tahun.
       beberapa kelemahan dari gejala-gejala tersebut muncul dalam dua latar atau lebih (misalnya di sekolah – di kantor dan di rumah)
      harus ada bukti yang jelas tentang kelemahan mencolok secara klinis dalam fungsi sosial akademik atau pekerjaan.
  gejala-gejala itu tidak terjadi terus menerus selama terjadi sesuatu kelainan kelainan perkembangan menahun kenapa skizofren, atau kelainan psikotik lainnya dan lebih disebabkan oleh kelainan mental lainnya (misalnya kelainan suasana hati, kecemasan, kelainan non-sosiatif, atau kelainan kepribadian).
 
Psikolog dari Klinik Empati Development Center, Jakarta
    gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada sistem saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan.
         Ada juga penyebab lainnya, yakni:
        temperamen bawaan,
        pengaruh lingkungan,
        malfungsi otak
        serta epilepsi.
        Bisa juga kondisi gangguan di kepala, seperti gegar otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan. 

Penyebab (faktor genetik)
         Defisit dari fungsi semisal respon inhibisi, kewaspadaan, dan kerja memori
         Berdasarkan hasil studi Twins, diperkirakan 60-94% ADHD diperoleh dari keturunan.  Hal ini dibuktikan melalui studi genome scan yang menemukan bahwa penanda (marker) pada kromosom 4,5,6,8,11,16,17 dan DRD4, merupakan kandidat gen untuk ADHD
 
Berkaitan dengan faktor genetic
         Risiko ADHD juga akan makin meningkat manakala salah satu saudara atau orang tua mengalami gangguan psikologis lain, misalnya depresi, gangguan kecemasan, gangguan belajar, gangguan mood, dan sebagainya.
         Orang tua dan saudara penderita ADHD mengalami resiko 2-8 kali lebih mudah terjadi ADHD,
    kembar monozygotic lebih mudah terjadi ADHD dibandingkan kembar dizygotic juga menunjukkan keterlibatan fator genetik di dalam gangguan ADHD.
   Keterlibatan genetik dan kromosom memang masih belum diketahui secara pasti.  Beberapa gen yang berkaitan dengan kode reseptor dopamine dan produksi serotonin,  termasuk DRD4, DRD5, DAT, DBH, 5-HTT, dan 5-HTR1B, banyak dikaitkan dengan ADHD. 

Berkaitan dengan anatomi otak
   Teori lain menyebutkan kemungkinan adanya disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh dopamin sebagai neurotransmitter pencetus gerakan dan sebagai kontrol aktifitas diri.
    Akibat MBD (gangguan otak yang minimal), yang menyebabkan terjadinya hambatan pada sistem kontrol perilaku anak
 
Penyebab (faktor non genetik)
         virus
         perinatal stres,
         BBLR (Berat Badan Lahir Rendah),
         cedera otak,
         dan merokok selama hamil.
  Penelitian lain juga menyebut faktor maturation lack (kelambanan dalam proses perkembangan anak-anak) sebagai salah satu penyebab ADHD. "Tetapi, biasanya penderita dapat mengejar keterlambatannya pada usia pubertas, sehingga gejala ini tidak menetap, hanya sementara."
 
Terapi psikofarmakologi
   Methylphenidate (MPH) dengan lama kerja singkat, sedang, dan panjang serta dextroamphetamine dengan masa kerja panjang. Dua formulasi yang paling mutakhir adalah campuran garam amphetamine (75% dextroamphetamine dan 25% levoamphetamine). Pemoline, suatu stimulan dengan masa kerja panjang, sekarang sudah jarang digunakan karena efek hepatoksisitas fatal (meskipun jarang). 

      Pemberian stimulan berespon pada 50-75% kasus. Dan stimulan yang banyak diresepkan dan paling popular adalah MPH. MPH diberikan dalam tiga dosis: rendah 15mg/hari atau 0,3mg/kg/hari, sedang 16-34mg/hari atau 0,5mg/kg/hari, dan tinggi >34mg/hari atau 1mg/kg/hari. Dosis maksimum MPH adalah 60mg/hari. MPH tidak boleh digunakan untuk anak usia di bawah 6 tahun. 

         Studi terbaru menemukan bahwa ada obat lain yang bisa digunakan untuk ADHD di samping stimulan. Yakni antidepresan trisiklik (imipramin, desipramin), bupropion, dan agonis alfa adrenergik (klonidin). Imipramin diberikan dengan dosis 1mg/kg/hari (maksimum < 4mg/kg atau 200mg). Untuk berat badan kurang dari 50 kg, dosis bupropion adalah 3-6mg/kg/hari (150mg – 300mg/hari).
 
Terapi nutrisi dan diet
    Terapi nutrisi dan diet banyak dilakukan dalam penanganan penderita.  Diantaranya adalah
        keseimbangan diet karbohidrat,
  penanganan gangguan  pencernaan (Intestinal Permeability or "Leaky Gut Syndrome"),
        penanganan  alergi makanan atau reaksi simpang makanan lainnya.
         Feingold Diet dapat dipakai sebagai terapi alternatif yang dilaporkan cukup efektif. 
    Suatu substansi asam amino (protein), L-Tyrosine, telah diuji-cobakan dengan hasil yang cukup memuaskan pada beberapa kasus, karena kemampuan L-Tyrosine mampu mensitesa (memproduksi) norepinephrin (neurotransmitter) yang juga dapat ditingkatkan produksinya dengan menggunakan golongan amphetamine
 
Terapi Biomedis
         Beberapa terapi biomedis dilakukan dengan ;
        pemberian suplemen nutrisi,
        defisiensi mineral, 
        essential Fatty Acids,
        gangguan metabolisme asam amino  dan toksisitas Logam berat. 

Terapi inovatif
         Terapi inovatif yang pernah diberikan terhadap penderita ADHD adalah ;
        terapi EEG Biofeed back,
        terapi herbal,
        pengobatan homeopatik dan
        pengobatan tradisional  Cina seperti akupuntur.
 
Terapi okupasi
         sensory Integration (AYRES),
         snoezelen,
         neurodevelopment Treatment (BOBATH),
         modifikasi Perilaku,
         terapi bermain dan
         terapi okupasi lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar